Sahabat
yang Tak Terduga
Tet... tet...
tet...
Bel
sekolah telah berbunyi. Seluruh siswa segera memasuki kelas mereka
masing-masing. Tampak sepasang kaki tengah melangkah di koridor sekolah. Seorang
gadis dengan ramput panjang terurai dan seragam putih dengan rok abu-abu
selutut yang tengah melangkah menuju suatu ruangan. Sepasang kaki itu terhenti
di depan sebuah pintu,ya.. ia telah sampai di depan pintu kelasnya.
“Heh
kamu anak miskin masih berani juga kamu buat berangkat sekolah!” ucap seorang
gadis dari dalam ruangan tersebut yang tak lain adalah kelasnya. ”Anak miskin!” Ya itulah panggilan atau lebih tepatnya
hujatan yang selalu dilontarkan Claudia kepada Rina. Rina hanyalah seorang
gadis sederhana sedangkan Claudia merupakan gadis kaya dan populer di
sekolahnya. Claudia juga merupakan
ketua dari geng yang
beranggotakan 4 orang gadis yang tak lain adalah Rachel,Amara,Dyana dan Maudy. Geng mereka sangat dikagumi dan
ditakuti oleh seluruh siswa SMA Cemara Hijau. Nama geng mereka adalah “The Girls” alasan nama
geng tersebut karena
geng itu terdiri dari
perempuan semua.
Di
sekolah Rina selalu saja mendapat bullyan dari Claudia dan teman-temannya. Semua
orang yang dekat dengan Rina juga akan di ganggu oleh Claudia. Itulah alasan
utama mengapa Rina tidak memiliki seorangpun teman di sekolah. Hari demi hari
selalu dilalui Rina seorang diri.
“Sepertinya
tempat ini pas untukku.” gumam Rina yang merasa telah menemukan sebuah tempat
untuknya. ”Di sini sangat nyaman sekali.” ucap Rina sambil duduk di bawah sebuah pohon besar yang rindang
di belakang sekolah. Kini Rina telah
menemukan tempat yang ia butuhkan. Tempat untuknya meluapkan semua kepenatan
yang ia alami sepanjang hari. Dan tentunya disana tidak akan ada yang
mengganggunya temasuk Claudia. Setiap jam istirahat Rina selalu pergi kesana
untuk membaca buku atau sekedar menghibur diri setelah lelah mengikuti
pembelajaran di kelas.
“Hmmttt...
Pantas saja kau merasa betah di sini. Udara disini sangat sejuk dan
pemandangannya juga indah.” tutur seseorang yang tiba-tiba duduk di samping
Rina.”Hah... kau si..si..siapa?” tanya Rina yang masih kaget dengan suara yang
tiba-tiba saja terdengar di telinganya itu.”Ah kau ini. Makanya jangan terlalu
menutup diri. Kenalkan aku Sinta kelas sepuluh MIA dua dan kau Rina kan siswi
kelas sepuluh MIA empat?” tanya Sinta dengan nada yang
bersahabat.”I...i..iya,tapi darimana kau tahu aku disini?” tanya Rina yang
kebingungan.“Sudahlah lupakan saja aku di sini hanya ingin mengenalmu lebih
dekat saja karena menurutku kau terlalu menutup diri dari semua orang.” sambung
Sinta yang kemudian melemparkan senyum kepada Rina.
Di dalam hati
Rina merasa sangat senang karena akhirnya ada seseorang yang mau berteman
dengannya. Meski sebenarnya ia masih ragu dengan kejadian yang tengah
dialaminya itu. Tapi ia tidak ingin berburuk sangka kepada Sinta. Kini mereka
sudah semakin dekat dan telah menjadi sahabat. Mereka selalu mengahabiskan
waktu bersama. Sinta selalu melindungi Rina dari orang yang menjahilinya. Rina
merasa senang karena sejak bersahabat dengan Sinta ia tidak pernah di ganggu
oleh teman-temannya lagi. Kini tidak ada lagi yang memanggil Rina dengan
panggilan anak miskin. Sebagai balasan atas semua kebaikan Sinta, Rina harus
mengerjakan PR milik Sinta meski sebenarnya ia tidak suka seperi itu tapi apa
boleh buat Sinta telah terlalu baik padanya.
Genap sudah satu bulan
persahabatan mereka. Pagi itu Rina berangkat sekolah membawa sebuah kotak
berukuran kecil yang terbungkus dengan indahnya. Saat tengah sibuk mencari
Sinta, Rina merasa tidak nyaman dengan semua mata yang tengah memusatkan pandangannya
kepada Rina.”Sebenarnya ada apa ini?” gumam Rina dengan suara yang pelan.
Akhirnya Rina dapat menemukan
orang yang ia cari-cari sejak tadi yaitu Sinta. Ia melihat Sinta di taman
sekolah.”Ini janjiku.Bagus juga kerjamu!” ucap seorang gadis dengan nada yang sinis. Gadis itu lalu menyerahkan sebuah kamera SLR Canon
kepada seorang gadis didepannya. Rina sangat kaget melihat apa yang tengah
terjadi di depan matanya. Orang yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri
itu telah mengkhianatinya. Sinta menerima kamera pemberian Claudia itu di depan
mata Rina. Sungguh hati Rina seperti tengah disayat dengan pisau yang sangat
tajam.
Claudia yang menyadari keberadaan
Rina disana lalu tertawa dengan kerasnya. ”Hahaha,hei kau anak miskin kau tahu
bahwa aku dan Sinta telah bertaruh untuk menjadikanmu sebagai babu, dan lihatlah
sekarang kau telah menjadi seorang babu. Kau pikir kau ini siapa? Jangan pernah kamu bermimpi untuk berteman dengan orang
seperti kita. Tak pantas sekali anak miskin sepertimu dekat dengan orang kaya
seperti kami,” ucap Claudia dengan sombongnya. Serentak semua orang yang berada
disana menertawakan dan melempari Rina dengan botol bekas. Rina hanya mampu
menangis. Ia lalu segera berlari menjauh dari keramaian itu.
“Bodoh sekali aku ini, dengan
mudahnya aku dipermainkan seperti ini. Ah... Aku benci semuanya, semua orang
sama saja. Mereka hanya melihat seseoang dari luarnya saja tanpa mereka tahu
isi hati oang lain. ‘’Rina mengguman dengan air mata yang meluncur dipipinya. Kakinya terasa lemas hingga tak sanggup lagi menopang tubuhnya dan membuatnya jatuh terduduk. Iamenangis di bawah pohon sembari memperhatikan kotak yang
ada di genggamannya.”Sudah kuduga kau pasti disini.” ucap seseorang yang
suara langkahnya kian mendekat. Telinga Rina merasa tidak asing dengan suara
itu. Itu adalah suara seseorang yang selalu menghiburnya setiap ia sedih tapi
kini suara itu pula yang telah melukainya.
“Kenapa
kau kemari? Belum puaskan kau menyakitiku? Aku memang hanyalah seorang anak
yang miskin yang hanya mampu mengandalkan beasiswa untuk masuk di sekolah elit
seperti ini. Aku memang tak sepantasnya berteman denganmu!” ucap Rina dengan
emosi yang meluap-luap. Sinta hanya melemparkan sebuah senyum dan dengan sigap
ia memotret Rina dengan kamera SLR Canon yang ia peroleh dari Claudia. ”Kau
tahu bahwa aku sangat senang berteman denganmu. Sangat sulit untukku mendekatimu
dan berkat kamera ini aku bisa jauh lebih dekat denganmu. Aku akan menyimpan
kamera ini sebagai bukti atas perjuanganku untuk bisa berteman denganmu.” jawab
Sinta. Setelah mendengar penjelasan dari Sinta, Rina merasa tidak percaya
dengan apa yang sedang dihadapinya. Ia merasa sangat beruntung karena Tuhan telah mengirimkan malaikat-Nya
melalui Sinta sahabatnya. Rina merasa telah menemukan seseorang yang mempunyai arti penting untuknya yaitu Sinta sahabat terbaiknya yang tak terduga. Rina
teringan dengan kado yang akan diberikan kepada Sinta sebagai peringatan satu
bulan persahabatan mereka. Rina lalu menyerahkan kado itu
kepada Sinta dengan sebuah senyuman. Tak berucap sepatah katapun Sinta segera
membuka kado pemberian Rina dan didapatinya sebuah gelang cantik dengan huruf
R&S di salah satu ujungnya. Lalu Sinta dan Rina saling berpelukan dan
mereka berjanji akan terus menjadi sahabat sampai kapanpun.